Powered By Blogger

Kamis, 05 Maret 2015

Teori Kepribadian Sehat



Minggu 2
           
A.    Aliran Psikoanalisis

Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut Freud pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber periloriaku yang tidak normal atau menyimpang.selain mengembangkan suatu teori kepribadian yang disebut teori psikoanalitik. Seperti telah diuraikan di atas, Freud juga mengembangkan suatu bentuk terapipsikoanalisi. Kerangka terapi psikoanalitik dikembangkan Freud dalam waktu bertahun-tahun selama praktek privatnya sebagai dokter. Freud menggunakan psikoanalisis untuk membantu klien memperoleh pemahaman mengenai konflik tak sadar dan memecahkannya. Apabila metode- metode yang digunakan oleh terapi psikoanalitik mulai mengembangkan dalam diri pasien suatu pemahaman (insight) baru terhadap kekuatan-kekuatan kepribadiannya, maka proses psikoanalitik sudah pada jalan menciptakan penyesuaian diri yang berhasil dari pasien terhadap lingkungannya.
Dalam psikologi Freudian, ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai proses maupun lokasi. Tentu saja, keberadaan lokasi dari ketiga tingkat tersebut bersifat hipotesis dan tidak nyata ada di dalam tubuh. Sekalipun demikian, ketika membahas alam tidak sadar, Freud melihatnya sebagai suatu alam tidak sadar sekaligus proses terjadi tanpa disadari.
Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, sering kali kita tidak menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya seorang pria bisa saja mengetahui bahwa ia tertarik pada seorang wanita tetapi tidak benar-benar memahami alasan dibalik ketertarikannya, yang bisa saja bersifat tidak rasional.
Dorongan tidak sadar ini muncul di alam bawah sadar setelah menjalani transformasi tertentu. Contohnya, seseorang dapat mengekspresikan dorongan erotis atau keinginan untuk melukai orang lain dengan cara menggoga atau mengolok-olok orang lain. Dorongan sejati (seks atau agresi) menjadi terselubung dan tersembunyi dari alam sadar kedua orang tersebut. Akan tetapi, alam tidak sadar orang kedua secara langsung. Keduanya dapat memuaskan dorongan seksual maupun agresif, tetapi tak satupun di antara mereka menyadari motif di balik godaan atau olok-olok tersebut. Dengan cara inilah, alam tidak sadar seseorang bisa berkomunikasi dengan alam tidak sadar dari orang lain, keduanya sama-sama tidak sadar akan proses tersebut.
Tentu saja, alam tidak sadar bukan berarti tidak aktif atau dorman. Dorongan-dorongan di alam tidak sadar terus-menerus berupaya agar disadari, dan kebanyakan berhasil masuk ke alam sadar, sekalipun tak lagi muncul dalam bentuk asli. Pikiran-pikiran yang tak disadari ini bisa dan memang memotivasi manusia. Contohnya, amarah sseorang anak terhadap sang ayah bisa terselubung dalam bentuk kasih sayang yang berlebihan. Apabila tak bisa disembunyikan, rasa marah seperti ini sudah tentu akan menyebabkan si anak merasa sangat cemas. Oleh karena itu, alam bawah sadarnya memotivasinya untuk mengekspresikan rasa marah melalui ungkapan rasa cinta dan pujian yang berlebihan. Agar selubung itu benar-benar berhasil mengelabui orang tersebut, maka sering kali perasaan tersebut muncul dalam bentuk yang sama sekali berbeda dengan perasaan yang sebenarnya, tetapi selalu muncul dalam bentuk yang berlebihan dan penuh kepura-puraan. (Mekanisme ini dikenal dengan pembentukan reaksi (reaction formation) yang akan dibahas secara terpisah dibagian berjudul Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism) yang terdiri dari represi (repression), pembentukan reaksi (reaction formation), pengalihan (displacement), fiksasi (fixation), regresi (regression), proyeksi (projection), introyeksi (introjection), dan sublimasi (sublimation).
Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen yang tak disadari, tetapi bisa muncul kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1993/1964). Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar (conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus perhatian beralih ke pemikiran lain.
Sumber kedua dari gambaran-gambaran bawah sadar adalah alam tidak sadar. Sedangkan sejumlah gambaran lain dari alam tidak sadar bisa masuk ke alam sadar karena bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap, ataupun dalam bentuk pertahanan diri yang kuat.
Alam Sadar
Alam sadar (conscious), yang memainkan peran tak berarti dalam teori psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang bisa langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.
Sumber kedua bagi elemen alam sadar ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.
         Dalam teori psikoanalisanya freud menjelaskan tentang struktur kepribadian individu, struktur kepribadian tersusuan atas 3 sistem pokok, yakni :

1.     Id
Id merupakan aspek biologis yang strukturnya paling mendasar dari kepribadian. Id juga merupakan sistem kepribadian yang asli, dimana id sebagai rahim tempat berkembangan ego dan superego. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis ada sejak lahir dan merupakan reservoir energi psikis. Id berhubungan erat dengan proses-proses jasmaniah darimana id mendapatkan energinya. Id memiliki 2 proses yaitu proses primer dan tindakan refleksi. Id terdiri dari dorongan - dorangan biologis seperti makan, sex dan agresifitas.
2.     Ego
Ego merupakan aspek psikologis yang berkembang dari id yang struktur kepribadianya mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Ego timbul karena kebutuhan – kebutuhan organisme memerlukan transaksi - transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Perbedaan pokok antara id dan ego adalah id hanya mengenal kenyataan subjektif jiwa sedangkan ego membedakan antara hal - hal yang terdapat dalam batin dan hal - hal yang terdapat dalam dunia luar. Ego disebut juga sebagai eksekutif kepribadian karena ego mengontrol pintu-pintu arah tindakan, memilih segi lingkungan kemana ia akan membri respon dan memutuskan insting mana yang akan dipuaskan.
3.     Superego
Superego merupakan aspek sosiologis yang merefleksikan nilai - nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orangtua, guru, dan orang lain kepada anak. Karena itu pada dasarnya superego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.




B.    Aliran Behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage danBerliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas.
Kepribadian sehat behavioristik :
·       Manusia adalah makhluk perespon; lingkungan mengontrol perilaku.
·       Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
·       Mementingkan faktor lingkungan
·       Menekankan pada faktor bagian
·       Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.

Aliran psikologi behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B.Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subjek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme ( yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan - laporan subjektif ) dan juga psikoanalisis ( yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak ).
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses - proses mental. Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa - apa.
Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh - sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif.
Fungsionalisme Menjadi dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama behaviorisme, yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis disertasinya di University of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan pengembangan bidang psikologi pada animal psychology dan child psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian, Watson menunjukkan kritik tajam pada fungsionalisme.
Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem kompleks yang bertigkah laku menurut cara - cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas.
Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri penting, yaitu :
1)     Menekankan pada respon - respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku.
2)     Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
3)     Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Manusia dapat belajar banyak tentang perilakunya sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang. Menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan yaitu berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respon terhadap rangsangan itu.
Jadi menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian yang sehat menurut behavioristik :
1)     Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya.
2)     Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri.
3)      Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang objektif.

























REFERENSI

Semius, Yustinus, 2006.  Teori Kepribadian & Psikoanalitik Freud. Penerbit Karnisius:
Yogyakarta.


Pengantar Kesehatan Mental



Minggu 1

A.    Orientasi kesehatan mental

Menurut ahli bahasa dari Mental Hygiene atau mental Health. Definisi-definisi yang diajukan  para ahli diwarnai oleh keahlian masing-masing. Menurut World Health Organization dalam Winkel  (1991) disebutkan : Sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik,mental dan social secara penuh dan bukan semata-mata berupa absensinya penyakit atau keadaan lemah tertentu. Dedinisi ini memberikan gambaran yang luas dalam keadaan sehat,mencangkup berbagai aspek sehingga diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan hidup. dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagiaan bersama serta mencapai keharmonisan jiwa dalam hidup.
Pengertian kesehatan Mental menurut para ahli
1.     Menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa: “Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan)”.   
2.     Menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan individu tersebut.
3.     Zakiah Darodjat, terhindarnya seseorang dari gejala-gejala ganggun dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kebahagiaan bersama serta mencapai keharmonisan jiwa dalam hidup.
4.     Allport, manusia sehat adalah manusia yang mencapai kematangan.
5.     Maslow, manusia sehat adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai kebahagiaan.

Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial. Sikap hidup individu yang sehat dan normal adalah sikap yang sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.

Dalam kesehatan mental ada beberapa ahli yang mengemukakan semacam orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan mental, salah satunya yaitu Saparinah sadli (dalam suroso, 2001: 132). Saparinah mengemukakan tiga orientasi kesehatan mental, yaitu:
1)     Orientasi Klasik
Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami ganguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadarandan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Orang yang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
2)     Orientasi Penyesuaian Diri
Dengan orientasi pengendalian diri, pemgertian sehat menal tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat tinggal. Oleh karena kaitannya dengan standar normal lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Sehat mental juga diukur atas dasar hubungan anatara individu dengan lingkungannya.
3)     Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensinya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psikoterapi (perawatan jiwa) ternyata yang menjadi pengendalian utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya pikiran tunduk pada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaan yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar.
B.    Konsep Sehat

Pengertian sehat menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) adalah  suatu kedaan kondisi fisik, mental dan  kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.
Alexander A. Schineiders dalam bukunya yang berjudul Personality Dynamics and Mental Health, mengmukakan beberapa kriteria yang sangat penting dan dapat diuraikan sebagai berikut:
  1. Pengendalian dan Integrasi Pikiran dan Tingkah Laku
Pengendalian yang efektif selalu merupakan salah satu tand ayang sangat pasti dari kepribadian yang sehat. Ini berlaku bagi proses-proses mental. Berkhayal secara berlebihan, misalnya, merusak kesehatan mental karena melemahkan hubungan antara pikiran dan kenyataan. Tanpa pengendalian itu, maka obsesi, ide yang yang melekat (pikiran yang tidak hilang-hilang), fobia, delusi dan simtom-simtomlainnya yang berkembangan.
Hal yang juga penting bagi kesehatan mental adalah integrasi pikiran dan tingkah laku, suatu kualitas yang biasanya diidentifikasikan sebagai integritas pribadi. Pembohong yang patologik, psikopat, dan penipu mengalami kekurangan dalam integrasi pribadi dan sering kali cirinya adalah bermental patologik.
  1. Integrasi Motif-Motif serta Pengendalian Konflik dan frustasi
Kemampuan untuk mengintegrasikan motivasi-motivasi pribadi dan tetap mengendalikan konflik-konfil dan frustasi-frustasi sama pentingnya dengan integrasi pikiran dan tingkah laku. Konfilk yang hebat bisa muncul apabila motif-motif tidak terintegrasi. Kebutuhan akan afeksi dan keamanan bisa bertentangan dengan otonomi; dorongan seks bisa bertentangan dengan cita-cita atau prinsip moral. Kecenderungan-kecenderungan yang bertentangan ini harus diintegrasikan anatara satu dengan yang lainnya jika konflik –konflik dan frustasi-frustasi itu dikendalikan.
  1. Perasaan-Perasaan dan Emosi-Emosi yang Positif dan Sehat
Integrasi yang dibutuhkan bagi kesehatan mental dapat ditunjang oleh perasaan-perasaan positif yang demikian juga sebaliknya perasaan-perasaan negatif dapat mengganggu atau bahkan merusak kestabilan emosi. Perasaan-perasaan tidak aman yang mendalam, tidak adekuat, bersalah, rendah diri, bermusuhan, benci, cemburu, dan iri hati adalah tanda-tanda gangguan emosional dan dapat menyebabkan mental tidak sehat. Sebaliknya, perasaan-perasaan diterima, cinta, memiliki, aman, dan harga diri masing-masing memberi sumbangan pada kestabilan mental dan dilihat sebagai tanda kesehataan mental. Dari perasaan-perasaan ini, perasaan aman mungkin sangat dominan karena pengaruhnya merembes pada hubungan antara individu dan tuntutan-tuntutan kenyataan.
  1. Ketenangan atau Kedamaian Pikiran
Apabila ada keharmonisan emosi, perasaan positif, penendalian pikiran dan tingkah laku, integrasi motif-motif maka akan muncul ketenangan mental. Kita tidak dapat memiliki yang satu tanpa yang lainnya. Ini berarti kesehatan mental, seperti penyesuaian diri dan tidak diiziznkan adanya simtom-simtom yang melumpuhkan respons-respons yang simtomatik, seperti delusi-delusi, lamunan, atau halusinasi-halusianasi, langsung bertentangan dengan kestabilan mental.
  1. Sikap-Sikap yang Sehat
Sangat penting mempertahankan pandangan yang sehat terhadap hidup orang-orang, pekerjaan, atau kenyataan. Tidak mungkin kesehatan mental terjadi dalam konteks kebencian dan prasangka, pesimisme dan sinisme, atau keputusasaan dan kehilangan harapan. Sikap-sikap ini terhadap kesehatan mental sama seperti bakteri dan racun terhadap kesehatan fisik.
  1. Konsep Diri (Self-Concept) yang sehat
Jika kita membaca literatur tentang masalah konsep diri, maka kita yakin bahwa kesehatan mental sangat tergantung pada kualitas ini. Sama seperti seseorang harus mempertahankan orientasi yang sehat kepada kenyataan objektif, demikian juga ia harus berpikir sehat tentang dirinya sendiri. Perasaan-perasaan diri yang tidak adekuat, tidak berdaya, rendah diri, tidak aman, atau tidak berharga akan mengurangi konsep diri yang ade kuat. Kondisi ini akan mengganggu hubungan antara diri dan kenyataan sehingga akan lebih sulit untuk menemukan kriteria lain dalam kesehatan mental.
Pribadi yang normal atau bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia. Saat ini, individu yang sehat mental dapat dapat didefinisikan dalam dua sisi, secara negative dengan absennya gangguan mental dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu sehat mental. Adapun karakteristik individu sehat mental mengacu pada kondisi atau sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat baik atau kebajikan (virtues),(Lowenthal, 2006).
World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis.
C.    Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri . Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental . Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental . Dengan kesehatan mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi baik . Di sisi ini dapat dilihat kemungkinan di kedua sisi itu kira kira 50:50 .
Perlu diketahui disini sejarah tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi mengenai penyakit mental dan cara menghilangkannya. Hal ini disebabkan oleh dua alasan , yaitu (1) Sifat dari masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya menjadi merasa ketakutan. (2) Perkembangan semua ilmu pengetahuan begitu lambat , dan banyak kemajuan yang sangat penting. Pada masa awal awal orang yang sakit mental dapat dipahami secara seluruh sering diperlakukan dengan kurang baik. Di jaman prasejarah pun manusia purba sering kali mengalami gangguan mental baik fisik maupun gangguan gangguan yang baik. Di jaman prasejarah ini juga terdapat perawatan-perawatan untuk penyakit gangguan mental yaitu : menggosok,menjilat,mengisap dan memotong.

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hiduo bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan lagi sebagai gangguan.

Gangguan mental Tidak Dianggap Sebagai Sakit.

Pada tahun 1600 dan sebelumnya , orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan menjalani ritual penebusan dan penyucian. Pandangan terhadap masyarakat ini menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karna mereka dimasuki oleh roh-roh yang ada disekitarnya.

Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan dimana pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat antara lain :
·       Akibat kekuatan supranatural
·       Dirasuk oleh roh atau setan
·       Dianggap kriminal karna memiliki derajad kebinatangan yang lebih besar dan Dianggap sakit
Tahun 1692 mendapatkan suatu pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, di Amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena shir atau guna-guna. Ini merupakan penjelasan yang diterima secara umum sehingga masyarakat takut dan membenci mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir.

Gangguan Mental Dianggap Sebagai Sakit

Tahun 1724 pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri. Tahun 1812 , Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu yang menangani masalah penanganan secara mental. Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul menangani pasien sakit jiwa. Pada masa ini tumbuh penanganan dirumah sakit jiwa merupakan hal ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. 

Melawan Diskriminasi Terhadap Gangguan Mental

Dunia medis memberikan pandangan tersendiri terhadap pemahaman mengenai gangguan mental. Dunia medis memandang penderita gangguan mental sebagai betul mengalami sakit. Dunia medis melihat sakit mental sebagai berakar dari sakit ketubuhan terutama otak.

Ilmu perilaku yang semakin berkembang juga memberikan pemahaman tersendiri mengenai gangguan mental. Berdasarkan pandangan ini penderita gangguan mental dimaknai sebagai ketidakmampuan mereka untuk melakukan penyesuaian diri yang sesuai dengan realitanya.
D.    Pendekatan Kesehatan Mental
Ada banyak pendekatan untuk mempengaruhi penyesuaian diri manusia dan dengan demikian akan meningkatkan kesehatan mental. Ada tiga cara pendekatan yang lazim digunakan, yaitu pendekatan preventif, pendekatan terapan dan pendekatan kuratif yang dikenal sebagai psikiatri preventif. Selain itu ada beberapa pendekatan kesehatan mental, yaitu :

a.      Pendekatan Orientasi Klasik

Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
Kesehatan Mental : terhindarnya individu dari gejala gangguan jiwa(neurosis) dan gejala penyakit jiwa( psikosis), berupa simptom-simptom negatif yang menimbulkan rasa tidak sehat,dan bisa mengganggu efisiensi yang biasanya tidak bisa dikuasai individu.

Kelemahan dari Orientasi ini adalah :
·         Simptom-simptom bisa terdapat juga pada individu normal
·         Rasa tidak nyaman dan konflik bisa membuat individu berkembang dan memperbaiki diri.
·         Sehat atau sakit tidak bisa didasarkan pada ada atau tidaknya keluhan.


b.      Pendekatan Orientasi Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri (Menninger,1947) : perubahan dalam diri yang diperlukan untuk mengadakan hubungan yang memuaskan dengan orang lain/lingkungan. individu bermasalah : apabila tidak mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan dari luar dirinya, dengan kondisi baru serta dalam mengisi peran yang baru. Normal dalam Orientasi ini :
a)           Normal secara statistik; yaitu apa adanya.
b)          Normal secara normatif : individu bertingkah laku sesuai budaya setempat. Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.

C. Pendekatan Orientasi Pengembangan Potensi
Kesehatan mental : pengetahuan dan perbuatan yang tujuannya untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa pada kebahagian diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan penyakit jiwa . Tokohnya : Allport , Maslow , Roger Fromm.
REFERENSI
Semiun, Yustinus. Kesehatan Mental 1. 2006.Penerbit Kanisius : Yogyakarta
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/10/jtptiain-gdl-s1-2005-tatikharya-497-BAB2_410-0.pdf


Jumat, 09 Januari 2015

Tugas Softskill

Tugas softskil 4
“ ceritakan pengalaman selama 1 semester ini”

Tugas softskill kali, kita para Mahasiswa/i disuruh nulis diblog dan menceritakan tentang pengalaman selama 1 semester ini, yaitu semester 3 di Fakultas Psikologi sebagai Jurusan Psikologi Angkatan 2013/2014 Universitas Gunadarma. Berikut pengalaman yang saya :
Asslamualaikum guys, simak pengalaman saya yah  ~_~
“ Inget banget pas awal pertama masuk kelas,  semester 3 tepatnya kelas 2pa06 yang pada saat itu mahasiswa yang dari kelas saya tadinya kelas 1pa09 cuman beranggotakan saya, hilda mawardya, allysa dan Nurfadilah. Dengan semangat pagi yang Wow bingits, ditambah lihat jadwal matakuliah yang pertama adalah matakuliah Statistika, makin gak deh,.heheh…….tapi,,tidak disangka saking berubah nya saya, tanpa malu-malu lagi, pas masuk kelas, langsung ngeberaniin diri ngajak kenalan seorang cewek, yang ciri-ciri nya Kerudungan,  make kacamata dan saat itu Dia nya megang gadget kelihatannya asyik sich, takut gangguin tapi yah masa bodoh, dalam hati “yah kan gw mau ngajak kenalan, nyari temen hitung-hitung temen baru haahahah..”. udah tuh,  tidak kerasa, saya kenalan sama Dia, Dia adalah qory yuliana teman pertama yang saya dapatkan pas awal masuk kelas di Semester 3.
Seiring berjalannya waktu, pagi, siang, malam dan seterusnya perkuliahan di semester 3 pun berjalan lancer, saya rajin masuk, yah seperti biasanya masih butuh adaptasi yang baik dengan lingkungan kelas baru 2PA06, yang kalau sejenak diperhatikan mahasiswa nya pada jutek, yah gitu deh…..tapi,,heheh ada tapi nya juga, saya masih dan terus nyari sahabat, temen, keluarga dan Alhamdulillah tanpa ada rencana, saya pun bertemu dengan sosok wanita-wanita hebat, hijaber, yah pokokknya double baik lah menurut saya, sosok yang bisa buat saya makin pede, sensitive saya berkurang pokoknya saya berubah  100 % yang pasti tidak seperti dulu yang ikutan tertawa padahal hati ngerasain yah biasa-biasa saja, mau tau siapa kah mereka? Yah mereka adalah Qory Yuliana, Hilda Azkya Mawardya, Marchsya Rahayu, Nelda Triana, dan yang terakhir Lily Melinda,5 perempuan yang berarti bagi saya skarang dan tidak hentinya saya bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukan, menyatukan saya dengan mereka, yang tadinya banyak banget perbedaanya. Alhamdulillah
Sahabat pun lengkap, yah walau sering jalan sekelompok sama mereka 5 perempuan yang berarti buat saya, tapi saya pun juga bergaul dengan teman-teman cewek/cowok dikelas 2PA06 yang bisa dibilang cukup baik dari pergaulan saya dikelas 1pa09 yang saya nya masih kaku untuk ngobrol, karena perbedaan saya, logat, ucapan aneh saya..hahaha tapi yah masa bodoh udah lewat, sekarang saya lebih baik lagi. Dan lebih percaya diri, mau temen-temen dikelas ketawain kek, yah cuekin aja.Positif Thingking
Next, pengalaman di kelas 2pa06 dengan jadwal kuliah selasa sampai jumat, dengan delapan matakuliah, ada Statistika, Psikologi Klinis, Psi. Kepribadian, PIO, Sosiologi,Psi. Perkembangan, Psi. Sosial, Softskill matakuliah yang baru dan awam banget buat saya, dan pernah terfikikirkan bahwa saya mungkin tidak bisa nguasain semua mata kuliah itu, tapi Syukur Alhamdulillah semua itu salah saya bisa. I am happy…I am Happy….kamu pasti bisa’”
Untuk sosok Dosen di semester 3 ini semua nya pada baik sama saya, terutama Dosen Kepribadian yang baik nya tidak tertandingin, hahahaah tapi yah semuanya baik, ngajar nya mantap, dosen Statistika Bu Ratu, dosen yang selalu ceria pas masuk kelas membuat saya jadi makin bersemangat buat ngikutin matkul nya Ia Statistika. Heheh---- lanjut dengan dengan Dosen Klinis yang membuat saya makin percaya diri, memory saya makin muantap,,wkwkwwk kenapa begitu? Yah karena saya suka tipe ngajarnya tanpa buku tapi saya bisa pahamin apa yang dia jelaskan kepada saya dan teman-teman saya, yah pokoknya semua dosen saya suka tipe ngajarnya. hehehehe
Harapan saya sekarang saya ingin semua sahabat, teman-teman yang ada di kelas 2pa06 kita semua bisa sukses dengan gelar Psikologi bisa sama-sama berbahagia kelak karena sebelumnya kita telah  ngerasain jerih payah, usaha kita, yang bisa dbilang tidak segampang ngebalikin telapak tangan, Pribadi saya mengatakan, “ positif Thingking saja di Dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, kalau kita ngelakuinnya dengan ikhlas, sabar, usaha, doa pada Allah Swt, Insya Allah semua yang kita idamkan, memakai Toga dengan Gelar Psikolog bisa terkabulkan. Amiiiin
Buat Dosen-Dosen yang ngajar Matakuliah di semester 3 “Terima kasih” buat ilmu yang telah kalian berikan kepada saya……Itu aja sekian yah…simple!!!!! And Good Bye……….see you





                                                                                                            Widya djaati