Powered By Blogger

Selasa, 03 November 2015

TUGAS 4 : PSIKOLOGI MANAJEMEN


Kelompok 5 (Semangka)
1.     Amylia Arifin                   ( 10513806 )
2.     Dicky Noviandi R             ( 12513423 )
3.     Hendra Setiawan              ( 14513020 )
4.     Ikhasan Zakaria               ( 14513257 )
5.     Widya Djaati                    ( 19513267 )

LATAR BELAKANG
Kepemimpinan adalah proses individu mempengaruhi orang lain dimana individu memiliki kemauan dan kesiapan yang mendorong, mengerakkan untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan bersama. Menurut Robert Tanembaum (dalam Ismainar, 2015) Pemimpin adalah mereka yang mengunakan wewenang formal untuk menorganisasikan, mengarahkan, mengontril para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.

1.   Definisi kepemimpinan
Dibawah ini ada beberapa pengertian dari kepemimpinan, diantara nya :
kepemimpinan menurut Yuki (dalam Ismainar, 2015) adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mampu membuat orang lain memberi  kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan suatu organisasi. Menurut Nawawi dan Handari, (2006) mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan atau kecerdasan yang mendorong sejumlah orang agar  berkerja sama dalam melaksanakan kegiatan yang terarah pada tujuan bersama.
Menurut Suyanto (dalam Ismainar, 2015) mendefinisikan kepemimpinan yaitu penggunaan keterampilan seseorang dalam mempengaruhi orang lain. Berdsarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kepempimpinan merupakan kemauan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengerakkan untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan bersama. Kuncinya dalam membangun suatu tim yang kuat dan adaptif peran Leadership sangat menentukan efektifitas tim.
Menurut Drs. H. Malayu S.P Hasibuan (dalam Ismainar, 2015) Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mnencapai tujuan.
Menurut Robert Tanembaum (dalam Ismainar, 2015) Pemimpin adalah mereka yang mengunakan wewenang formal untuk menorganisasikan, mengarahkan, mengontril para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
Kepemimpinan (dalam Ismainar, 2015) adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi, perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, memperbaiki kelompok dan budayanya.
Berdasarkan pengertian kepemimpinan di atas maka dapat disimpulkan bahwa, kepemimpinan ada proses seseorang dapat mempengaruhi orang lain, memotivasi,  dengan cara nya tersendiri, membuat orang lain nyaman atau tidak nyaman, dengan tujuan tertentu.
Kepemimpinan terbagi menjadi 4 tipe ( dalam Tangkilisan, 2015) :
1.     Kepemimpinan Direktif (directive leadership)
Yaitu bawahan tahu secara jelas apa yang diharapkan dari mereka dan perintah-perintah khusus apa yang diberikan oleh pemimpin. Disini tidak dikenal partisipasi bawahan, atau bersifat autokratis.
2.     Kepemimpinan Suportif (supportive leadership)
Yaitu pemimpin selalu bersedia menjelaskna, bertindak sebagai rekanan dan mudah didekati.
3.     Kepemimpinan Partisipatif (participative leadership)
Yaitu pemimpin meminta dan menggunakan saran-saran bawahan, tetapi berperan dalam pengambilan dan pembuatan keputusan.
4.     Kepemimpinan Berorientasi  Prestasi (achievement oriented leadership)
Yaitu pemimpin mengajukan tantangan-tantangan dengan tujuan yang menarik bagi bawahan, dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta melaksanakannya dengan baik.

2.   Teori Kepemimpinan Partisipant

Kepemimpinan partisipatif  (dalam, runtuwene 2014)  muncul dari beberapa teori kepemimpinan maupun dari berbagai studi dan penelitian tentang kepemimpinan. Di antaranya adalah teori Path-Goal atau jalan-tujuan. Teori ini menganalisa pengaruh atau dampak kepemimpinan terhadap motivasi bawahan, kepuasan, dan pelaksanaan kerja. Teori path-goal memasukkan empat tipe atau gayapokok perilaku pemimpin (Lunenburg & Ornstein, 1991: 143-144; Reksohadiprojo dan Handoko, 2001:289-290), yaitu kepemimpinan direktif, kepemimpinan suportif, kepemimpinan partisipatif, dan kepemimpinan orientasi-prestasi.
Menurut teori ini kepemimpinan partisipatif adalah pemimpin meminta dan menggunakan saran-saran bawahan, tetapi masih membuat keputusan. Kebanyakan studi dalam organisasi menyimpulkan bahwa dalam tugas-tugas yang tidak rutin karyawan lebih puas di bawah pimpinan yang partisipatif daripada pemimpin yang non partisipatif. Kepemimpinan partisipatif menyangkut usaha-usaha oleh seorang manajer untuk mendorong dan memudahkan partisipasi orang lain dalam pengambilan keputusan yang jika tidak akan dibuat tersendiri oleh manajer tersebut (Yukl, 1998:132). Kepemimpinan ini mengandung aspek-aspek kekuasaan seperti bersama-sama menanggung kekuasaan, pemberian kekuasaan dan proses-proses mempengaruhi yang timbal-balik. Sedangkan yang menyangkut aspek-aspek perilaku kepemimpinan seperti prosedur-prosedur spesifik yang digunakan untuk berkonsultasi dengan orang lain untuk memperoleh gagasan dan saran-saran, serta perilaku spesifik yang digunakan untuk proses pengambilan keputusan dan pendelegasian kekuasaan.
a.     Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor
Salah satu model perilaku kepemimpinan adalah teori X dan Y ( dalam, Purwanto, 2006) yang dikemukakan oleh Dauglas Mcgregor. Teori X dan Y didasarkan pada berbagai asumsi tentang gaya karyawan/pegawai dan bagaimana memotivasi mereka. Berbagai asumsi yang mendasari teori X dan Y adalah :
a)       Teori X
1)       Karyawan cenderung tidak suka (malas) bekerja, kalau mungkin menghindarinya.
2)       Karyawan harus ingin selalu diarahkan
3)       Manajer harus selalu mengawasi kerja
b)      Teori X
1)       Karyawan suka bekerja
2)       Karyawan memiliki komitmen pada tujuan organisasi akan dapat mengarahkan dan mengendalikan dirinya sendiri
3)       Karyawan belajar untuk menerima bahkan mencari tanggung jawab pada saat bekerja


b.       Teori system empat dari Rensis Likert
Rensis Likert, ( dalam Ruky, 2002) menggabungkan kategori gaya dan orientasi pada tugas dan orientasi pada kawyawan, menyusun sebuah model aktifitas manajemen empat tingkat :
a)     Manajer sistem 1
Dalam system 1 manajer atau pemimpin membuat keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan memerintahkan bawahan untuk melaksanakannya. Manajer juga menentukan secara kaku standard an metode pelaksanaannya.
Rensis Likert dan Stone  ( dalam, Nurdin 2007)  Mengembangkan Empat system tersebut terdiri dari:

1.     Sistem 1  otoritatif dan eksploitif
Manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh manajer.
2.     Sistem 2 otoritatif dan benevolent
Cirinya masih memberi perintah-perintah, tetapi bawahan masih mempunyai kebebasan tertentu untuk mengomentari perintah
3.     Sistem 3 konsultatif,
Cirinya menetapkan tujuan dan memberi perintah umum setelah dibahas bersama.
4.     Sistem 4 partisipatif,
Cirinya tujuan ditetapkan dan keputusan dibuat oleh kelompok (system ideal)



c.    Teory of leadership pattern chace dari Tannembaum & Schmidt
Seseorang dapat melakoni gaya kepemimpinan dalam suatu horizont mulai dari sangat otokratik hingga partisipatif  (dalam Khasali, 2007)
a)     Otokratik, kepemimpinan yang lebih otoriter, bisa melakukan banyak hal sendirian dan membiarkan karyawan/bawahan berada dalam kegelapan dam menginformasikan bawahan.
b)     Partisipatif, gaya kepemimpinan ini  eksekutif melibatkan bawahan-bawahannya dalam berbagai hal, yaitu pengumpulan dara, mendiagnosis masalah, mencapai persetujuan dan sebagainya.

d.       Teori kepemimpinan dari konsep modern choice approach to participation yang memuat deciciom on tree for leadership dari Vroom & Yetto
Teorinya didasarkan bagaimana perilaku pembuatan keputusan pemimpin mempengaruhi kualitas dan pembuatan  keputusan bawahan dan penerimaan bawahan terhadap keputusan atasan. ( dalam Sarwono, 2005) Ada tiga macam prosedur pembuatan keputusan adalah sebagai berikut
a)     Otokratik adalah pemimpin membuat keputusannya sendiri dan meminta anggota kelompoknya untuk menaati keputusan tersebut.
b)     Konsultasi : pemimpin berkonsultasi terlebih dahulu dengan anggota-anggotanya ( meminta masukkan atau pertimbanga) sebelum memuat keputusan
c)     Keputusan bersama : pemimpin dan anggota bersama-sama membuat keputusan.

e.       Teori kepemimpinan dari konsep contingency theory of leadership dari Fiedler
Teori kontingensi (contingency Theory) terbagi menjadi (dalam Soekarso & Putong, 2015) :
a)     Teori ini pendekatan analisanya berdasarkan pada hokum situasi (low of the situation), bahwa setiap situasi yang berbeda akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang berbeda pula.
b)     Teori ini menganggap bahwa setiap organisasi memiliki karakteristik situasi masing-masing dan menghadapi masalah yang berbeda, oleh karena itu setiap organisasi atau situasi yang berbeda harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan yang berbeda.
c)     Kepemimpinan yang efektif teori kotingensi adalah kepemimpinan yang memiliki dab memberdayakan berubah-ubah (changes leader): setiap yang berbeda, memperagakan gaya yang berbeda pula.

f.        Teori kepemimpinan dari konsep Puth Goal teory

Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi para pengikur, kinerja dan kepuasan. Teori ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana pemimpim mempengaruhi persepsi dari pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Ivancevich, dkk, 2007:205).
Dasar dari path goal adalah teori motivasi ekspektansi. Teori awal dari path goal menyatakan bahwa pemimpin efektif adalah pemimpin yang bagus dalam memberikan imbalan pada bawahan dan membuat imbalan tersebut dalam satu kesatuan (contingent) dengan pencapaian bawahan terhadap tujuan sepsifik. Jadi, dalam konsep ini pemimpin yang dianggap baik dalam menjalankan tugas, adalah pemimpin yang selalu memberikan rewad kepada bawahannya.




PENUTUP

Kepemimpinan adalah proses yang berada dalam suatu kelompok, organisasi, dimana seseorang mempunyai hak mempengaruhi orang lain, memotivasi orang lain dengan cara dan strategi masing-masing dengan tujuan tertentu dan untuk menjalankan kepetingan bersama.









DAFTAR PUSTAKA

Ismainar, Hetty (2015).,Manajemen unit kerja. Deepublish : Sleman

Khasali, Renald (2007)., Change! Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Lastiko, Runtuwene ( 2014) Kepemimpinan dan pengambilam keputusan partisipatif http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf  Di akses 19.25  tanggal 30 Oktober 2015

Nurdin, Didin (2007)., Ilmu dan aplikasi Pendidikan bagian 2 ilmu pendidikan  praktisipant Imperial Bhakti Utama : Jakarta

Purwanto, Djoko (2006)., Komunikasi bisnis edisi ke 3 Penerbit  Erlangga : Jakarta

Ruky, Ahmad S (2002)., Sukses sebagai manajer professional tanpa gelar MM atau MBA. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Sutanto, E.,M (2000) Peranan Gaya Kepemimpinan yang Efektif dalam Upaya Meningkatkan Semangat dan Kegairahan Kerja Karyawan di Toserba Sinar Mas Sidoarjo.Vol 2 No 2. 2015 http://repository.petra.ac.id/15487/1/MAN00020203.pdf Di akses 21.30  tanggal 30 Oktober 2015

Sarwono, sarlito W (2005).Psikologi sosial. Balai Pustaka : Jakarta

Soekarso & Putong, Iskandar (2005).,Kepemimpinan. Gramedia : Jakarta

Tangkilisan, H.N.S., (2005) Manajemen public. Grasindo : Jakarta






Senin, 19 Oktober 2015

TUGAS 3 : PSIKOLOGI MANAJEMEN ( definisi Kekuasaan)




DEFINISI KEKUASAAN
Kelompok 5 (Semangka)
1.     Amylia Arifin                   ( 10513806 )
2.     Dicky Noviandi R             ( 12513423 )
3.     Hendra Setiawan              ( 14513020 )
4.     Ikhasan Zakaria               ( 14513257 )
5.     Widya Djaati                    ( 19513267 )

A.      Latar belakang
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo, 2003). Studi tentang kekuasaan dan pengaruhnya sangat penting untuk dipahami bagaimana organisasi melakukan aktivitasnya. Sangat memungkinkan untuk melibatkan kekuasaaan (power) dalam setiap interaksi dan hubungan sosial pada organisasi. Orang cenderung untuk mempengaruhi individu lain dan organisasi dalam setiap tindakan atau perilakunya dengan melakukan social influence dan tindakan (Greenberg & Baron, 2000).
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964) Adanya kekuasaan cenderung tergantung dari hubungan antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dengan pihak lain yang menerima pengaruh itu, rela karena terpaksa. Kekuasaan lambat laun diidentifikasikan dengan orang yang memegangnya. Contohnya, dalam masyarakat Indonesia terdapat pada masyarakat-masyarakat hokum adat (misalnya desa) yang letaknya terpencil, dimana semua kekuasaan pemerintahan, ekonomi, dan sosial dipercayakan kepada para kepala masyarakat hokum adat tersebut untuk seumur hidup. Karean luasnya kekuasaan dan besarnya kekuasaan yang menyeluruh dari masyarakat hukum adat kepada kepalanya, pengertian kekuasaan dan pengertian orang yang memegangnya lebur menjadi satu. Gejala lain dalam masyarakat yang memegangnya lebur menjadi satu. Gejala lain dalam masyarakat yang memegangnya lebur menjadi satu. Gejala lain dalam masyarakat yang kecil dan bersahaja tadi adalah tidak adanya perbedaan yang jelas antara kekuasaan ( yang tidak resmi ) dengan wewenang  yang resmi ( dalam Soekanto, 1992).
Sebaliknya didalam masyarakat yang besar dan rumit, dimana terlihat berbagai sifat dan tujuan hidup golongan yang berbeda-beda dan  kepentingan yang tidak selalu sama satu dengan lainnya, kekuasaan biasanya terbagi pada beberapa golongan. Oleh karena itu, terdapat perbedaan dan pemisahan teoritis dan nyata tentang kekuasaan politik, militer, ekonomi, dan agama dan seterusnya. Kekuasaan yang terbagi itu tampak dengan jelas di dalam masyarakat yang menganut dan melaksanakan demokrasi secara luas ( dalam Soekanto, 1992).
Kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya identik dengan politik. Politik sendiri diartikan sebagai upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat.
Penyalahgunaan kekuasaan pada dunia politik yang kerap dilakukan oleh pelaku politik menimbulkan pandangan bahwa tujuan utama berpartisipasi politik hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal, pada hakekatnya penggunaan kekuasaan dalam politik bertujuan untuk mengatur kepentingan semua orang yang ada dalam organisasi, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Untuk itu, adanya pembatasan kekuasaan sangat diperlukan agar tumbuh kepercayaan anggota organisasi terhadap pemegang kekuasaan dan terciptanya keadilan serta kenyamanan dalam kehidupan.

1.     Definisi Kekuasaan
Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia. Kekuasaan seringkali disamakan dengan konsep politik, bahkan banyak yang beranggapan bahwa kekuasaan adalah politik. Begitu pentingnya peranan kekuasaan dalam masyarakat baik yang masih saja maupun yang sudah besar atau rumit susunannya menyebabkan munculnya penilaian baik atau buruknya harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari oleh masyarakat. Kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota masyarakat oleh sebab tidak merata itulah munculnya makna yang pokok dari kekuasaan itulah merupakan kemampuan untuk melancarkan pengaruh dengan pihak lain yang menerima pengaruh itu rela atau karena terpaksa (Soejono Soekamto, 2007:227).
Menurut Max Weber, kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannnya sendiri dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.
2.     Sumber-sumber Kekuasaan Menurut French dan Raven
French dan Raven (dalam Sarlito, 2005), menyusun sebuah kategorisasi sumber kekuasaan ditinjau dari hubungan anggota (target) dan pemimpin (agent):
a)           Kekuasaan Imbalan atau Ganjaran (Insentif Power)
Kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain (pengikutnya) karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang memandang bahwa imbalan, baik imbalan ekstrinsik maupun imbalan intrinsik, yang ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya, mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini amat erat sekali kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan imbalan sebagai faktor pengaruh. 

b)          Kekuasaan Paksaan (Coercive Power)
Kekuasaan imbalan seringkali dilawankan dengan kekuasaan paksaan, yaitu kekuasaan untuk menghukum. Hukuman adalah segala konsekuensi tindakan yang dirasakan tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Pemberian hukuman kepada seseorang dimaksudkan juga untuk memodifikasi perilaku, menghukum perilaku yang tidak baik atau merugikan organisasi dengan maksud agar berubah menjadi perilaku yang bermanfaat. Para manajer menggunakan kekuasaan jenis ini agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada konsekuensi tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya. Jenis hukuman dapat berupa pembatalan pemberikan konsekuensi tindakan yang menyenangkan, misalnya pembatalan promosi, pembatalan bonus, maupun pelaksanaan hukuman seperti skors, PHK, potong gaji, teguran di muka umum, dan sebagainya. Meskipun hukuman mungkin mengakibatkan dampak sampingan yang tidak diharapkan, misalnya perasaan dendam, tetapi hukuman adalah bentuk kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau memperbaiki prestasi yang tidak produktif dalam organisasi.

c)           Kekuasaan Resmi ( Legitimate Power )
Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena posisinya. Seorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki kekuasaan atas pihak yang berkedudukan lebih rendah. Dalam teori, orang yang mempunyai kedudukan sederajat dalam organisasi, misalnya sesama manajer, mempunyai kekuasaan legitimasi yang sederajat pula. Kesuksesan penggunaan kekuasaan legitimasi ini sangat dipengaruhi oleh bakat seseorang mengembangkan seni aplikasi kekuasaan tersebut. Kekuasaan legitimasi sangat serupa dengan wewenang. Selain seni pemegang kekuasaan, para bawahan memainkan peranan penting dalam pelaksanaan penggunaan legitimasi. Jika bawahan memandang penggunaan kekuasaan tersebut sah, artinya sesuai dengan hak-hak yang melekat, mereka akan patuh. Tetapi jika dipandang penggunaan kekuasaan tersebut tldak sah, mereka mungkin sekali akan membangkang. Batas-batas kekuasaan ini akan sangat tergantung pada budaya, kebiasaan dan sistem nilai yang berlaku dalam organisasi yang bersangkutan

d)          Kekuasaan Keahlian ( Expert Power )
Seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika ia memiliki keahlian khusus yang dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka rendah. Semakin sulit mencari pengganti orang yang bersangkutan, semakin besar kekuasaan yang dimiliki. Kekuasaan ini adalah suatu karakteristik pribadi, sedangkan kekuasaan legitimasi, imbalan, dan paksaan sebagian besar ditentukan oleh organisasi, karena posisi yang didudukinya.  Contohnya ; Pasien – pasien dirumah sakit menganggap dokter sebagai pemimpin atau panutan karena dokterlah uang dianggap paling ahli untuk menyembuhkan penyakit

e)           Kekuasaan Rujukan ( Referent Power
Banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Karisma orang yang bersangkutan adalah basis kekuasaan panutan. Seseorang yang berkarisma ; misalnya seorang manajer ahli, penyanyi, politikus, olahragawan; dikagumi karena karakteristiknya. Pemimpin karismatik bukan hanya percaya pada keyakinan – keyakinannya sendiri (factor atribusi), melainkan juga merasa bahwa ia mempunyai tujuan-tujuan luhur abadi yang supernatural ( lebih jauh dari alam nyata ). Para pengikutnya, di sisi lain, tidak hanya percaya dan menghargai sang pemimpin, tetapi juga mengidolakan dan memujanya sebagai manusia atau pahlawan yang berkekuatan gaib atau tokoh spiritual (faktor konsekuensi). Jadi, pemimpin kharismatik berfungsi sebagai katalisator dari psikodinamika yang terjadi dalam diri para pengikutnya seperti dalam proses proyeksi, represi, dan regresi yang pada gilirannya semakin dikuatkan dalam proses kebersamaan dalam kelompok. Dalam masa puncaknya, Bung Karno misalnya; diberi gelar paduka yang mulia, Panglima Besar ABRI, Presiden seumur hidup, petani agung, pramuka agung, dan berbagai gelar yang lainnya.


B.      Kesimpulan
Kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya identik dengan politik


DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono. 1982., Sosiologi sebagai Suatu Pengantar.  Raja Grafindo Persada : Jakarta
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi       Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
            Weber, Max. 1972. Wirtschaft und Gesellschaft. Tubingen: Mohr  Siebeck
Indriani, Santi. 2010, “Hukum dan Kekuasaan dalam Implementasinya”. Volume 3, No. 6, https://jodfisipunbara.files.wordpress.com/2012/05/11-santi-oke-hal-81-89.pdf, Desember 2010.


Selasa, 13 Oktober 2015

TUGAS 2 : PSIKOLOGI MANAJEMEN ( Mempengaruhi Perilaku )


KELOMPOK SEMANGKA


MAKALAH PSIKOLOGI MANAJEMEN
MEMPENGARUHI PERILAKU

(Diajukan sebagai tugas mata kuliah Psikologi Manajemen)
Disusun Oleh :
Kelompok 5
1.    Amylia Arifin                                   ( 10513806 )
2.    Dicky Noviandi R                             ( 12513423 )
3.    Ikhsan Zakaria                                   ( 14513257 )
4.    Hendra Setiawan                               ( 14513020 )
5.    Widya Djaati                                     ( 19513267 )



Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma 2015/2016


PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang.
Para filsuf/filosofi mengatakan bahwa hanya satu hal yang kekal di dunia ini yaitu perubahan. Perubahan akan selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan. Hal yang paling nyata adalah diri kita sendiri, secara fisik diikuti psikis, kita tidak dapat menghindari perubahan dari bayi menjadi anak-anak kemudian remaja dan matang sebagai orangtua. Perubahan memberi peluang untuk menjelajahi bidang-bidang baru dan mematahkan rintangan-rintangan yang mungkin ada agar tetap eksis dalam situasi yang dinamis. Kunci perubahan adalah suatu upaya untuk memenuhi syarat menuju keberhasilan sesuai dengan ukuran pengalaman dan intuisi. Hanya saja, banyak orang yang merasa menjadi korban dari perubahan, padahal seharusnya seseorang bisa menjadi bagian atau person yang ditantang oleh banyaknya kesempatan dalam perubahan yang ada (dalam Simaremare, 2013).

MEMPENGARUHI PERILAKU

A.      Definisi Pengaruh
Pengaruh adalah pernyataan suatu hubungan yang sudah menjadi arah. Pengaruh adalah salah satu bentuk hubungan yang simetris, oleh karena itu, pada konsep pengaruh, arah hubungan perlu diterapkan. Dalam hubungan sebab-akibat, penentuan pengaruh ini jauh lebih mudah (dalam Umar, 2013).
Proses perubahan perilaku (Setiana, 2005) akan menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, dan perilaku mental, sehingga mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan perubahan-perubahandalam usaha taninya demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan, dan perbaikan kesejahteraan keluarga yang ingin dicapai melalui pembangunan pertanian dalam hal ini titik berat terdapat pada proses penyuluhan yang berkesinambungan sebagai proses perubahan perilaku. Proses perubahan perilaku dituntut agar sasaran berubah tidak semata-mata karena adanya penambahan pengetahuannya saja, namun diharapkan juga ada perubahan pada keterampilan sekaligus perilaku mental yang menjurus kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif, dan menguntungkan (dalam Herminingsi, 2014).

Komponen perilaku menurut Mar’at (1984) terbagi menjadi tiga (Setiana, 2005). yaitu: (1) komponen kognitif adalah komponen perilaku yang berhubungan dengan beliefs, ide, dan konsep. Komponen kognitif ini mempengaruhi seseorang dalam hal pemikiran yang berwujud pengolahan, pengalaman, dan keyakinan, serta harapan-harapan individu tentang obyek atau kelompok obyek tertentu; (2) komponen afektif adalah komponen yang menyangkut kehidupan emosional sehingga seseorang dapat memiliki penilaian emosional yang dapat bersifat positif atau negatif, senang atau tidak senang, takut atau tidak takut; (3) komponen konatif adalah komponen perilaku yang merupakan kecenderungan bertingkah laku atau keadaan mudah terpengaruh untuk bertindak sesuatu terhadap obyek (dalam Herminingsi, 2014).

Hal yang dapat membuat individu merubah perilakunya, ataupun tidak, hal inilah yang dinamakan pengaruh, beriku defisni pengaruh menurut beberapa tokoh :
1.     Menurut Kamus Besar Indonesia (dalam Partanto, 1994)
“Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”
2.     Menurut Norman Barry (dalam Budiardjo, 2007)
“Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sangsi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya.”(influence is a type of power in that a person who is influenced to act in a certain way may be said to be caused so to act, even though an overt threat of santions will not be the motivating force)
3.     Menurut Uwe Becker(dalam Budiardjo, 2007)
“Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang – berbeda dengan kekuasaan tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan”
4.     Menurut Robert Dahl
“A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B lakukan.”
5.     Pengaruh merupakan dua konsep yang berbeda, dan apakah satu diantaranya merupakan konsep pokok, dan yang lainnya bentuk khususnya (dalam Budiardjo, 2007)
6.     Menurut kelompok kami                                                                               
“Pengaruh merupakan sesuatu seperti subjek atau objek yang memiliki kekuatan untuk menimbulkan dorongan yang dapat mengubah seseorang menjadi sesuatu yang di kehendaki.”

B.           Kunci-kunci Perubahan Perilaku
Para filsuf/filosofi mengatakan bahwa hanya satu hal yang kekal di dunia ini yaitu perubahan. Perubahan akan selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan. Hal yang paling nyata adalah diri kita sendiri, secara fisik diikuti psikis, kita tidak dapat menghindari perubahan dari bayi menjadi anak-anak kemudian remaja dan matang sebagai orangtua. Perubahan memberi peluang untuk menjelajahi bidang-bidang baru dan mematahkan rintangan-rintangan yang mungkin ada agar tetap eksis dalam situasi yang dinamis. Kunci perubahan adalah suatu upaya untuk memenuhi syarat menuju keberhasilan sesuai dengan ukuran pengalaman dan intuisi. Hanya saja, banyak orang yang merasa menjadi korban dari perubahan, padahal seharusnya seseorang bisa menjadi bagian atau person yang ditantang oleh banyaknya kesempatan dalam perubahan yang ada (dalam Simaremare, 2013)
Perubahan yang telah mempengaruhi seseorang akan membentuk suatu peralihan kondisi yang sebelumnya buruk menjadi baik. Seseorang yang dapat berubah terdiri dari individu berkepribadian (personality) baik. Personaliti terlahir atas daya intelektual dan perbuatan yang menjadikan personality tersebut berkualitas.
Sebab oleh karena itu kunci, perilaku yang akan menjadi kunci perubahan dalam masyarakat adalah seseorang (individu)  yang memiliki sikap kepercayaan diri tanpa batas dan tekad untuk terus maju menuju hal yang lebih baik. Perubahan setiap individu merupakan modal dasar yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia dalam lingkungan masyarakat.
Nilai bahwa masyarakat memiliki banyak tambang potensi sumber daya dan orang-orang berkualitas, jujur, dan dapat dipercaya, adalah idealisme yang harus dilaksanakan. Karena dengan perubawahn dapat membuka peluang munculnya orang-orang jujur yang dapat dipercaya akan lebih menjamin kemajuan masyarakat.

C.              Bagaimana Mempengaruhi Orang Lain
Mempengaruhi orang lain dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan memberikan sugesti. Sugesti adalah proses mempengaruhi orang lain untuk bertingkah laku menurut keinginan-keinginan seseorang atau menerima ide-ide seseorang tidak secara kritis tanpa paksaan (dalam Semiun, 2006).
Individu yang cenderung mudah mempengaruhi orang lain cenderung memiliki kekuasaan demi mencapai suatu kebutuhan hidupnya. Individu dengan kebutuhan kekuasaan yang tinggi, dilain pihak individu tersebut mengkonsentrasikan diri dengan mempengaruhi orang lain dan memenangkan argumentasi. Tujuan utama mempengaruhi orang lain untuk mencapai kebutuhan, karena menurut McCleallan kebutuhan dipelajari melalui penyesuaian dengan lingkungan seseorang, dengan penyesuaian tersebut itulah cara nya mempengaruhi orang lain (dalam Semiun, 2006).
Tujuan individu berkomunikasi ialah karena hendak mempengaruhi orang lain. Beberapa cara dalam mempengaruhi orang lain (dalam Hassan & Ainon Mohd, 2001), diantarnya :
a)     Mempunyai ide. Dengan ide individu mencoba mempengaruhi orang lain supaya mereka mau menerima ide yang dibuat oleh seorang individu. Jadi, individu mampu mempengaruhinya supaya mereka mau membuang ide tersebut.
b)     Estim diri. Salah satu faktor yang memudahkan orang lain mudah terpengaruh dengan kita ialah karena adanya estim diri yang dipancarkan didalam bahasa yang kita guanakan untuk mempengaruhi orang lain.
c)     Gaya bahasa positif. Bahasa positif adalah bahasa yang terpengaruh. Maksudnya adalah jika individu hendak mempengaruhi orang lain, gaya bahasa positif dapat mempengaruhi orang lain. Oleh karean orang-orang yang Berjaya adalah juga orang-orang yang menggunakan gaya bahasa positif, karena dengan bahasa positif itulah orang-orang yang Berjaya dapat mempengaruhi orang-orang lain. Disebabkan orang yang berikap positif dapat mempengaruhi orang-orang yang mendengar mereka bercakap, jadi mereka lebih mudah sukses dalam apa yang mereka lakukan.
Menurut pakar psikologi, individu mudah suka kepada orang-orang yang bersikap positif. Karena perasaan suka itulah yang menyebabkan kita juga mudah terpengaruh oleh mereka.
d)     Cara terakhir untuk bagaimana mempengaruhi orang lain yaitu berkomunikasi dengan lebih fasih, lancar dan teratur. Karena bahasa bahasa yang tersusun rapi, intonasi yang terkawal, tanpa ada kecepatan atau kelajuan itu semua membuat orang lain dapat dengan cepat dipengaruhi oleh diri kita.




D.          Wewenang
Wewenang merupakan sebagai suatu hal yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting, dan untuk menyelesaikan pertentangan-pertentangan. Dengan kata lain, seseorang yang mempunyai wewenang bertindak sebagai orang yang memimpin atau membimbing orang banyak ( Ibid, hal 83).
Wewenang adalah hak yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. Tekanannya adalah pada hak, dan bukan pada kekuasaan.
Wewenang ada beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut :
1.     Wewenang kharismatis, Tradisional, dan Rasional ( Legal ).
Perbedaan antara wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal) dikemukakan oleh Max Weber (947). Perbedaan tersebut didasarkan  pada hubungan antara tindakan dengan dasar hokum yang berlaku

a)     Wewenang kharismatis (charismatic authority) merupakan wewenang yang didasarkan pada charisma, yaitu  suatu kemampuan khusus (wahyu, pulung) yang ada pada diri seseorang. Kemampuan khusus tadi melekat pada orang tersebut karena anugrah. Wewenang kharismatis akan dapat bertahan selama dapat dibuktikan keampuhannya bagi seluruh masyarakat.
Wewenang kharismatis tidak diatur oleh kaidah-kaidah, baik yang tradisional maupun rasional, sifatnya cenderung irasional. Ada kalanya charisma dapat hilang karena masyarakat sendiri yang berubah dan mempunyai paham yang berbeda. Perubahan-perubahan tersebut sering kali dapat diikuti oleh orang yang mempunyai wewenang kharismatis tadi sehingga dia berfungsi oleh kemajuan dan perkembangan masyarakat.

b)     Wewenang tradisional ( traditional authority )dapat dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Dengan kata lain wewenang tradisional dimiliki oleh orang-orang yang menjadi anggota kelompok, yang sudah lama sekali mempunyai kekuasaan didalam suatu masyarakat. Ciri-ciri utama wewenang tradisional adalah :
1)     Adanya ketentuan-ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai wewenang, serta orang-orang lainnya dalam masyarakat,
2)     Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang  hadir secara pribadi,
3)     Selama tidak ada pertentangan dengan ketentuan-ketentuan tradisional, orang-orang yang dapat bertindak secara bebas.

c)     Wewenang rasional (rational/legal authority ) adalah wewenang yang disandarkan pada system hokum yang berlaku dalam masyarakat. Sistem hokum disini dipahamkan sebagai kaidah-kaidah yang telah diakui serta ditaati masyarakat dan bahkan yang telah diperkuat oleh Negara. Hukumnya bersandar pada tradisi, agama, atau faktor-faktor lain.

2.     Wewenang Resmi dan Tidak Resmi
Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan, dan rasional. Biasanya wewenang tersebut dapat dijumpai pada kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap. Dalam kehidupan kelompok-kelompok sering kali timbul masalah tentang derajat resmi suatu wewenang yang berlaku didalamnya. Sering kali wewenang yang berlaku didalam kelompok-kelompok kecil disebut sebagai wewenang tidak resmi karena bersifat spontan, situasional dan didasarkan pada faktor saling mengenal.

3.     Wewenang pribadi dan territorial
Perbedaan wewenang pribadi dan territorial sebenarnya timbul dari sifat dan dasar kelompok-kelompok sosial tertentu. Kelompok-kelompok tersebut mungkin timbul karena faktor ikatan darah, atau mungkin juga karena faktor tempat tinggal, atau karena gabungan kedua faktor tersebut. Perbedaannya adalah, wewenang pribadi sangat tergantung pada solidaritas antara anggota-anggota kelompok, dan unsur kebersamaan sangat memegang peranan. Para individu dianggap memiliki kewajiban ketimbang hak. Sedangkan wewenang territorial, wilayah tempat tinggal memegang peranan penting. Pada kelompok territorial unsur kebersamaan cenderung berkurang karena desakan faktor-faktor individualism. Hal ini tidaklah berarti bahwa kepentingan perorangan diakui dalam kerangka kepentingan bersama.

4.     Wewenang terbatas dan menyeluruh
Wewenang terbatas adalah wewenang tidak mencakup semua sector atau bidang kehidupan, tetapi hanya terbatas pada salah satu sector atau bidang saja. Misalnya, seorang jaksa di Indonesia, mempunyai wewenang atas nama Negara dan mewakili masyarakat yang melakukan tindak pidana. Namun, jaksa tidak berwenang mengadilinya. Suatu wewenang menyeluruh berarti suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang kehidupan tertentu.















PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pengaruh adalah pernyataan suatu hubungan yang sudah menjadi arah. Pengaruh adalah salah satu bentuk hubungan yang simetris, oleh karena itu, pada konsep pengaruh, arah hubungan perlu diterapkan.Perubahan yang telah mempengaruhi seseorang akan membentuk suatu peralihan kondisi yang sebelumnya buruk menjadi baik. Seseorang yang dapat berubah terdiri dari individu berkepribadian (personality) baik. Personality terlahir atas daya intelektual dan perbuatan yang menjadikan personality tersebut berkualitas.Perubahan setiap individu merupakan modal dasar yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia dalam lingkungan masyarakat.













DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Meriam. 2007.,Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Indonesia : Jakarta
Hassan, Abdullah & Ainon Mohd. 20015.,Teori dan Teknik Ucapan berpengaruh Edisi kemas kini. Professional : Malaysia
Herminingsi, Herti. 2014., Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Perilaku Petani Tembakau di Kabupaten Jember. Agribisnis FMIPA UPBJJ : UT Jember. Vol : 15 file:///C:/Users/mama/Downloads/22-64-1-PB.pdf. 13;43
Simaremare, Lintong. 2013., Kunci Pembahagiaan dalam Pekerjaan. Mata Pena Group :  Jakarta
Semiun, yustinus. 2006., Teori Kepribadian & Teori Psikoanalitik Freud. Kanisius : Yogyakarta
Soekanto, Soerjono. 1892,.Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada : Jakarta
Umar, Husein. 2013., Riset Bisnis dilengkapi Contoh Proposal dan hasil Riset Manajemen dan
Akuntansi. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta