Powered By Blogger

Senin, 14 April 2014

aku

"My dear"

"kadang apa yang kita pikirkan, yang kita inginkan belum tentu itu bisa terwujud"

awalnya aku seneng kenal ama dia, dia itu kakak yang baik, yang udah ngajarin aku bagaimana dengan sabarnya aku menghadapi hidup, rintangan, tantangan yang aku alami saat ini menjelang kuliah ke semester 2, tepatnya jurusan psikologi.


Yah,,,sebutlah nama dia itu kakak aja, soalnya aku keseringan manggil dia kakak, waktu pertama kali ketemu. sebenarnya sich aku pas kenal ama kakak itu gak ngerasa apa-apa. cuman pas di ajak jalan lebih ajakan itu. bodohnya aku juga sich, kenapa coba bisa jadi kejebak kaya gini, mending gak usah kenal, biar pas ketemu kan gak canggung dan malu. Hemmmm,,, yah tapi mau gimana lagi nasi udah menjadi bubur, aku udah terlanjur mengenal dia. Walau di Facebook dia udah ngeblokir aku, tapi yah aku fine-fine aja deh, gak apa-apa lah, mungkin ini semua udah di rencanain oleh Allah SWT.
kalau mau jujur, aku juga bingung sich ama perasaan aku sekarang, apa jatuh cinta, atau gimana yah, ??????????...bingung,,,,,,,nunjukin gak yah? ngomong gak yah?

Akh,,,gak mungkin dan gak mau deh, walaupun jelek aku masih punya harga diri, malu...heheheheh masa aku yang bilang. yah,,,sabar aja deh..kalau emang jodoh mah gak bakalan kemana.IYA GAK//////

Tadi kan aku ketemu dia, kaget bangat pas dia bilang aku udah ngeblokir kamu. hufffff....yah deh gak apa-apa..aku terima kok. aku juga maklumi, lagian aku kan bukan siapa-siapa nya dia, aku kan cuman orang asing, yang tiba-tiba kenal ama dia, karena dia juga udah kenal keluarga aku duluan. heheheh
aku cuman berharap semoga aku di ajak jalan ama dia lagi, bukanya apa-apa. aku ngerasa nyaman bangat ama dia, lega setelah curhat. yah walau dia bukan siapa-siapanya aku.

#23121995#

makalah intelegensi



INTELEGENSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Psikologi umum Semester Dua


 



Di susun Oleh :
1.      Bunga Rezki Lestari           (11513820)
2.      Nur Fadillah Ami S             (19513781)
3.      Widya Djaati                      (19513267)


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA

Tahun Ajaran 2013/2014
Depok


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Istilah Intelegensi yang padanan katanya “kecerdasan”, walaupun sepintas lalu kelihatan jelas, rupanya tidak mudah dirumuskan, karena tidak semua orang atau bahkan setiap ahli menyatakan hal yang sama untuk istilah tersebut. Banyak ahli yang berbeda persepsi untuk mendefinisikan istilah inteligensi.Intelegensi merupakan salah satu konsep yang di pelajari dalam psikologi. Pada hakekatnya, semua orang sudah merasa memahami makna intelegensi. Sebagian orang berpendapat bahwa intelegensi merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan.
1.2  Rumusan masalah
1.      Apa definisi dari Intelegensi ?
2.      Apa saja faktor yang mempengaruhi intelegensi ?
3.      Apa saja teori intelegensi ?
4.      Bagaimana pengukuran intelegensi ?


1.3  Tujuan Penulisan

1.      Untuk  mengetahui definisi intelegensi.
2.      Untuk memahami faktor yang mempengaruhi intelegensi.
3.      Untuk memahami teori intelegensi.
4.      Dan bisa bermanfaat pagi mahasiswa psikologi







BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian intelegensi
Apabila kita telusuri asal usulnya, kata “intelegensi” erat sekali hubungannya dengan kata “intelek”. Hal itu bias dimaklumi sebab keduanya berasal dari kata latin yang sama, yaitu intellegere, yang berarti memahami. Intellectus atu intelek adalah bentuk participium perpectum (pasif) dari intellegere; sedangkan intellegens atau inteligensi adalah bentuk participium praesens (aktif) dari kata yang sama. Bentuk-bentuk kata ini memberikan indikasi kepada kita bahwa intelek lebih bersifat pasif atau statis (being, potensi), sedangkan inteligensi lebih bersifat aktif (becoming, aktualisasi). Berdasarkan pemahaman ini, bisa kita simpulkan bahwa intelek adalah daya atau potensi untuk memahami, sedangkan inteligensi adalah aktivitas atau perilaku yang  merupakan perwujudan dari daya atau potensi tersebut.
Sehubungan dengan pengertian inteligensi ini, ada yang mendefinisikan inteligensi sebagai: “Kemampuan untuk berpikir secara abstrsk” (Terman); “Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Colvin); ada pula yang mendefinisikan inteligensi sebagai “intelek plus pengetahuan” (Henmon); “Teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indera” (Hunt).
   Untuk memperoleh pengertian yang lebih luas dan lebih jelas tentang inteligensi, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli.
1.      S.C Utami Munandar
Secara umum inteligensi dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.       Kemampuan untuk berpikir abstrak;
b.      Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar;
c.       Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
2.      Alfred Binet
Alfred Binet, dikenal sebagai pelopor dalam menyusun tes inteligensi, mengemukakan pendapatnya mengenai inteligensi sebagai berikut (Effendi & Praja, 1993):
Inteligensi mempunyai tiga aspek kemampuan, yaitu:
a.      Direction,  kemampuan untuk memusatkan kepada suatu masalah yang harus dipecahkan.
b.      Adaptation, kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapai masalah.
c.       Criticism, kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.
3.      L.L Thurstone
Ia mengemukakan teori multi faktor yang meliputi 7 faktor dasar (primary abilities), yaitu:
a.       Verbal comprehension (V), kecakapan untuk memahami pengertian yang diucapkan kata-kata;
b.      Word fluency (W),  kecakapan dan kefasihan mengggunakan kata-kata;
c.       Number (N), kecakapan untuk memecahkan masalah matematika (penggunaan angka-angka/bilangan);
d.      Space (S), kecakapan tilikan ruang, sesuai dengan bentuk hubungan formal, seperti menggambar design from memory;
e.       Memory (M), kecakapan untuk mengingat;
f.       Perceptual (P), kecakapan mengamati dan menafsirka, mengamati persamaan dan perbedaan suatu objek;
g.      Reasoning (R), kecakapan menemukan dan menggunakan prinsip-prinsip.
4.      Edward Thorndike
Sebagai seorang tokoh psikologi koneksionisme, Thorndike mengemukakan bahwa: “Inteligensi adalah kemampuan individu untuk memberikan respons yang tepat (baik) terhadap stimulasi yang diterimanaya”
5.      George D. Stodard
inteligensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
a.       Mempunyai tingkat kesukaran;
b.      Kompleks;
c.       Abstrak;
d.      Ekonomis;
e.       Memiliki nilai-nilai social;
f.       Memiliki daya adaptasi dengan tujuan;
g.      Menunjukkan kemurnian (original);
6.      William Stern
“Inteligensi merupakan kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya”.
7.      Lewis Medison Terman
Inteligensi terdiri atas dua faktor, yakni:
“General ability (faktor G), yaitu kecakapan umum” dan “Special ability (faktor S), yaitu kecakapan khusus”. Faktor G dan faktor S bukan suatu faktor yang terpisah, tetapi bekerjasama sebagai kesatuan yang bulat. Teori dari Terman ini dikenal sebagai teori dwi faktor (two factor theory).
8.      Carl Whitherington
Menurut Whitherington, sebutan inteligensi atau kecerdasan sebetulnya kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “kelakuan cerdas”. Alasannya, kalau disebut inteligensi, seakan-akan inteligensi itu melekat pada badan, seperti hidung, telinga, sedangkan menurutnya, inteligensi bukan merupakan suatu benda (substansi), melainkan suatu pengertian. Jadi, inteligensi tidak lain dari pengertian, kumpulan kelakuan yang menunjukkan hal yang cerdas. Pengertian inteligensi, menurut Whitherington, mempunyai ciri-ciri hakiki berikut:
1.      Cepat; makin cepat pekerjaan diselesaikan, makin cerdaslah orang yang menyelesaikan.
2.      Cekatan; biasanya dihubungkan dengan pekerjaan tangan; dengan mudah dan ringkas menjelaskan sesuatu.
3.      Tepat; sesuai dengan tuntutan keadaan; misalnya mengukur jalan yang panjang dengan besaran yang benar pula. Juga berarti mengukur dengan tepat, tidak kurang pula.
Dengan demikian, dapatlah disebut bahwa inteligensi adalah kesempurnaan perbuatan kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan adalah kecerdasan (activity) yang efisisen. Dan dikatakan efisien apabila memenuhi tiga cirri-ciri hakiki inteligensi tadi.

2.2   BENTUK TES INTELIGENSI
A.   Wechsler Test
Seorang psikolog, David Wechler mengembangkan tiga alat tes inteligensi yaitu the Wechsler Adult Intelligence Scale(WAIS), the Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), dan the Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI). Ketiga alat tes ini diterima dan banyak digunakan oleh psikolog klinis dan ahli-ahli lainnya. Namun, untuk alat tes yang digunakan untuk orang dewasa, the WAIS yang paling efektif. Wechlsler tes merupakan alat tes yang dikembangkan untuk melihat individu secara keseluruhan dan fokus pada proses bukan sekedar hasil skor pada tes.

Sejarah dan Perkembangan The WBIS & WAIS
Pada awalnya, the WAIS merupakan the Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WB) pada tahun 1939. Wechsler menunjukkan bahwa tes inteligensi seperti Stanford-Binet dirancang untuk mengukur intligensi anak-anak dan untuk beberapa kasus yang mencakup orang dewasa tidak dapat sesuai. Terlebih untuk tes verbal yang standarnya kurang sesuai. Untuk mengatasi masalah ini, Wechsler  membuat alat tes yang bernama Wechsler-Bellevue, dimana item-itemnya banyak yang diadopsi dari Tes Binet-Simon, the Army Alpha, yang biasa digunakan untuk tes militer pada Perang Dunia I dan dari tes-tes lainnya. Pada tahun 1955, Wechsler-Bellevue diganti dengan the WAIS,yang direvisi kembali pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R, dan direvisi kembali menjadi the WAIS-3 pada tahun 1997. Item-item pada skala the WAIS diambil dari variasi tes, seperti pengalaman klinis dan dari proyek-proyek pilot. Item-item tersebut dipilih dengan dasar validitas empiris walaupun seleksinya didasari oleh Wechsler’s theory of the nature intelligence. Revisi the WAIS-R merupakan usaha untuk memodernisasi konten alat tes, seperti, informasi baru item subtes yang mengacu pada orang kulit hitam yang terkenal dan kepada wanita,untuk mengurangi ambiguitas, untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan kontroversial, untuk memfasilitasi administrasi, dan menilai dengan tepat sesuai dengan perubahan pada Manual.
Fungsi-fungsi psikologis pada WAIS
Subtes
Fungsi-fungsi Psikis
Faktor-faktor yang berpengaruh
Informasi
Retensi jangka panjang asosiasi dan organisasi pengalaman
Latar belakang cultural interes
Komprehensi
Penalaran abstrak organisasi pengetahuan pembentukan konsep luasnya atensi
Peluang cultural respon terhadap situasi-situasi riil
Aritmetik
Retensi dan proses-proses aritmetik
Peluang memperoleh proses-proses dasar aritmetik
Persamaan
Analisis hubungan-hubungan pembentukan proses verbal
Peluang cultural yang minum
volkabulari
perkembangan bahasa pembentukan konsep
Peluang kultural
Rentangan angka
Mengingat cepat imajinasi auditif imajinasi visual pada saat itu
Luasnya atensi
Menata gambar
Persepsi visual mengenai relasi-relasi sintesis dari meteri nonverbal
Suatu peluan cultural kecil  ketajaman visual pada saat itu
melengkapi gambar
Persepsi visual: analisis imajinasi visual
Pengalaman lingkungan, ketejaman visual pada saat itu
Merakit objek
Persepsi visual: sintesis imajinasi visual
Kecekatan ketepatan motorik presisi
Rancangan balok
Persepsi bentuk, persepsi visual analisis, integrasi visual motorik, kecekatan ingatan cepat
Kecekatan motorik, pengelihatan warna minimum
Symbol angka
Integrasi visual motorik, imajinasi visual
Kecekatan ketepatan motorik
TablWAIS-R subtests
Analisis pola
Penggunaan skala Wechsler telah menghasilkan sejumlah besar informasi diantaranya : analisi pola, makna dari perbedaan antara skor skala subteks atau antara IQ verbal dan kinerja. Contohnya kita dapat mengharapkan IQ seseorang dan kinerja IQ Verbal menjadi cukup mirip. Pola kinerja mungkin berhubungan dengan beberapa kondisi diagnostik. Sebagai contoh, kinerja menghitung jauh lebih tinggi dari kemampuan kosakata mungkin  hal ini menunjukkan belahan otak kiri mengalami penurunan kinerja otak kiri. (Haynes&Bensch,1981). Wechler (1941) berpendapat bahwa perbedaan besar dari dua titik skala rata-rata subset orang yang signifikan mencerminkan beberapa kelainan. Bagian sulit dari analisi pila adalah perbedaan antara subyek yang diperoleh oleh salah satu individu mungkin mencerminkan kondisi diagnostik yang rendah seperti objek majelis dan picture arrangement.

Komposisi faktor dalam skala WAIS
          Skala WBS tahun 1939 dan WAIS 1955, telah dianalisis menurut berbagai teknik statistic yang penting. Para analiasis bersepakat dalam penemuan empat faktor di dalamnya, yakni:
1.      Suatu faktor umum (g), yang disebut sebagai edukatif atau penalaran umum.
2.      Suatu faktor verbal, atau disebut komprehensi verbal.
3.      Suatu faktor organisasi nonverbal, ruang, atau organisasi visual motorik.
4.      Faktor memori nonspesialisasi.


 Group Administration
Meskipun tes Wechsler adalah tes yang diujikan per individu, beberapa investigator berusaha untuk mengembangkan tes ini ke dalam bentuk kelompok, dengan memilih bagian yes yang khusus dan mengubah prosedur pengontrolan sehingga sekelompok orang dapat diuji secara serentak. Hasil dari pengontrolan ini secara umum berkorelasi dari rentang 0,80 sampai 0,90 dengan standar pengontrolan., meskipun lagi menyatakan bahwa data observasi yang kaya dapat dikumpulkan dari pengontrolan per individual.

Kesalahan penguji
Slate dan Hunnicut (1988) mengajukan beberapa alasan yang dapat menjelaskan adanya kesalahan penguji dalam skala Wechsler, yaitu:
1.      kurangnya training dan dan kurangnya prosedur instruksional.
2.      ambiguitas dalam tes manual, kurang jelasnya penjelasan tentang pemberian skor, dan kurangnya instruksi yang lebih spesifik yang akhirnya mengambigukan respon
3.    kecerobohan penguji dalam penghitungan maupun pengontrolan
4.    kesalahan yang disebabkan karena perbedaan antara penguji dan yang diuji
5.    masalah pekerjaan dari penguji

     Kritik
Meskipun tes Wechsler sering digunakan, ada banyak kritik dalam kepustakaannya. G. Frank (1983) contohnya, menyatakan tes Wechsler seperti dinosaurus yang terlalu besar dan tidak dalam jalur konseptualisasi tertentu dari psikometrik dan inteligensi; ia juga berpendapat tes ini sebaiknya dihapus. Namun begitu, WAIS-R telah digunakan secara luas, baik dalam praktek klinis maupun penelitian, dan banyak keuntungan yang telah terbukti dari tes ini. Contohnya, berlawanan dengan pendapat umum, satu penemuan umum dari tes Wechsler adalah tes ini tidak memiliki bias sistematis yang berlawanan dengan kelompok minoritas.

Keuntungan:
o   Mencakup rentang umur 16-74 tahun
o   Penyelesaian manual WAIS-R dapat mencangkup standar pengukuran kesalahan
o   Skalanya memiliki konten dan struktur validitas
o   Dapat digunakan untuk berbagai instansi
o   Reliabilitas tinggi
o   Tes ini tidak memiliki bias sistematis yang berlawanan dengan kelompok minoritas.
o   Dapat menghasilkan sejumlah besar informasi diantaranya : analisi pola, makna dari perbedaan antara skor skala subteks atau antara IQ verbal dan kinerja

Kelemahan:
Tes ini terlalu besar dan tidak dalam jalur konseptualisasi tertentu dari psikometrik dan inteligensi serta adanya examiner error.


B.   TES IST
Tes IST (Intelligenz Struktur Test) merupakan salah satu tes psikologi untuk mengukur tingkat intelegensi seseorang. Tes IST sangat familiar digunakan oleh biro-biro psikologi saat ini. Untuk mengetahuil lebih detail mengenai tes IST, akan dijelas lebih lengkap di bawah ini.



Sejarah Perkembangan Tes IST (Intelligenz Struktur Test)
Tes IST merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953. Amthauer mendefinisikan inteligensi sebagai keseluruhan struktur dari kemampuan jiwa-rohani manusia yang akan tampak jelas dalam hasil tes. Intelegensi hanya akan dapat dikenali (dilihat) melalui manifestasinya misalnya pada hasil atau prestasi suatu tes.
Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes yang dinamakan IST dengan hipotesis kerja sebagai berikut:
“Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara hierarkis; maksudnya bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada bidang-bidang yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.”
Pandangan Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori bifaktor, teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang diperlukan suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara subtes satu dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor yang sama (general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak berhubungan karena masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor). Sedangkan kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes-subtes. Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9 subtes (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Karakteristik dari baterai tes Amthauer menunjukkan adanya suatu interkorelasi yang rendah antar subtesnya (r=0.25) dan korelasi antara subtes dengan jumlah (keseluruhan subtes) yang rendah pula (r=0.60).
Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer dengan bantuan dari para koleganya, berikut adalah perkembangan tes IST dari tahun 1953 hingga tahun 2000-an. 
Tes IST 1953
Tes IST yang pertama ini pada awalnya hanya digunakan untuk individu usia 14 sampai dengan 60 tahun. Proses penyusunan norma diambil dari 4000 subjek pada tahun 1953.
Tes IST 1955
Tes IST merupakan pengembangan dari IST 1953, pada IST 1955 rentang usia untuk subjek diperluas menjadi berawal dari umur 13 tahun. Subjek dalam penyusunan norma bertambah menjadi 8642 orang. Pada tes ini sudah ada pengelompokan jenis kelamin dan kelompok usia.
Tes IST 1970
Berdasarkan permintaan dan tuntutan pengguna yang menyarankan pengkoreksian dengan mesin juga pengembangan tes setelah penggunaan lebih dari 10 tahun, maka disusunlah IST 70. Dalam IST 70 ini tidak terlalu banyak perubahan, tes ini memiliki 6 bentuk, setiap pemeriksaan dilakukan 2 tes sebagai bentuk parallel; yaitu A1 dan B2, atau C3 dan D4. Dua bentuk lainnya untuk pemerintah dan hanya bagi penggunaan khusus. Pada IST 70, rentang kelompok usia diperluas menjadi berawal dari 12 tahun. Disamping itu telah ditambah tabel kelompok dan pekerjaan. Namun demikian, pada IST 70 terdapat kekurangan yaitu penyebaran bidang yang tidak merata dan menggunakan kalimat dalam subtes RA sehingga jika subjek gagal dalam subtes ini dapat dimungkinkan karena tidak mampu mengerjakan soal hitungannya atau tidak mengerti kalimatnya.
Tes IST 2000
Sebagai koreksi dari IST 70, pada IST 2000 tidak terdapat soal kalimat pada soal hitungan.


Tes IST 2000-Revised
Pada IST 2000-R ini terdapat beberapa perkembangan subtes juga penambahan subtes. IST ini terdiri dari 3 modul, yaitu sebagai berikut:
1.      Grundmodul-Kurzform (Modul Dasar-Singkatan); terdiri dari subtes : SE, AN, GE, RE, ZR, RZ, FA, WU, dan MA. 
2.      Modul ME: terdiri dari subtes ME Verbal dan ME Figural 
3.      Erweiterungmodul (Modul menguji pengetahuan); terdiri dari subtes Wissentest (tes pengetahuan) 
IST yang digunakan di Indonesia adalah IST hasil adaptasi Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung. Adaptasi dilakukan kepada IST-70. Tes ini pertama kali digunakan oleh Psikolog Angkatan Darat Bandung, Jawa Barat (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Fungsi dan Tujuan IST
Tes ini dipandang sebagai gestalt (menyeluruh), yang terdiri dari bagian- bagian yang saling berhubungan secara makna (struktur). Dimana struktur intelegensi tertentu meggambarkan pola kerja tertentu, sehingga akan cocok untuk profesi atau pekerjaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut IST umum digunakan untuk memahami diri dan pengembangan pribadi, merencanakan pendidikan dan karier serta membantu pengambilan keputusan dalam hidup individu. 
Subtes-subtes dalam IST
IST terdiri dari sembilan subtes yang keseluruhannya berjumlah 176 aitem. Masing-masing subtes memiliki batas waktu yang berbeda-beda dan diadministrasikan dengan menggunakan manual (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Sembilan subtes dalam IST, yaitu:
1.      SE: melengkapi kalimat. Pada subtes ini yang diukur adalah pembentukan keputusan, common sense (memanfaatkan pengalaman masa lalu), penekanan pada praktis-konkrit, pemaknaan realitas, dan berpikir secara berdikari/ mandiri. 
2.      WA: melengkapi kalimat. Pada subtes ini akan diukur kemampuan bahasa, perasaan empati, berpikir induktif menggunakan bahasa, dan memahami pengertian bahasa. 
3.      AN: persamaan kata. Pada subtes ini yang diukur adalah kemampuan fleeksibilitas dalam berpikir, daya mengkombinasikan, mendeteksi dan memindahkan hubungan- hubungan, serta kejelasan dan kekonsekuenan dalam berpikir. 
4.      GE: sifat yang dimiliki bersama. Pada subtes ini hal yang akan diukur adalah kemampuan abstraksi verbal, kemampuan untuk menyatakan pengertian akan sesuatu dalam bentuk bahasa, membentuk suatu pengertian atau mencari inti persoalan, serta berpikir logis dalam bentuk bahasa. 
5.      RA: berhitung. Dalam subtes ini aspek yang dilihat adalah kemampuan berpikir praktis dalam berhitung, berpikir induktif, reasoning, dan kemampuan mengambil kesimpulan. 
6.      ZR: deret angka. Dalam subtes ini akan dilihat bagaimana cara berpikir teoritis dengan hitungan, berpikir induktif dengan angka-angka, serta kelincahan dalam berpikir. 
7.      FA: memilih bentuk. Pada subtes ini akan mengukur kemampuan dalam membayangkan, kemampuan mengkonstruksi (sintesa dan analisa), berpikir konkrit menyeluruh, serta memasukkan bagian pada suatu keseluruhan. 
8.      WU: latihan balok. Pada subtes ini hal yang akan diukur adalah daya bayang ruang, kemampuan tiga dimensi, analitis, serta kemampuan konstruktif teknis. 
9.      ME: latihan simbol. Subtes ini mengukur daya ingat, konsentrasi yang menetap, dan daya tahan.

Skoring dan Interpretasi Tes IST
Skoring
Tahap skoring yang digunakan untuk setiap subtes adalah dengan memeriksa setiap jawaban dengan menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan. Untuk semua subtes  (SE, WA, AN, RA, ZR, FA, WU, & ME), kecuali subtes 04-GE, setiap jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk jawaban salah diberi nilai 0. Khusus untuk subtes 04-GE, tersedia nilai 2, 1, dan 0; karena subtes ini berbentuk isian singkat maka nilai yang  akan diberikan tergantung dengan jawaban yang diberikan oleh subjek.
Total nilai benar yang sesuai dengan kunci jawaban merupakan Raw Score (RW); nilai ini belum dapat diinterpretasi sesuai dengan norma yang digunakan. Nilai RW yang sudah dibandingkan dengan norma disebut dengan Standardized Score (SW). Nilai SW inilah yang dapat menjadi materi untuk tahap selanjutnya, yaitu interpretasi. Adapun norma yang digunakan adalah sesuai dengan kelompok umur subjek.
Interpretasi
Setelah didapatkan Standardized Score, maka tahap interpretasi dapat dilakukan. Kesembilan subtes saling berkaitan, sehingga harus dilakukan semuanya dan interpretasinya harus dilakukan secara keseluruhan (Amthauer dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Interpretasi yang dapat dilakukan dari tes IST adalah sebagai berikut: 
1.      Taraf kecerdasan. Taraf kecerdasan didapat dari total SW. Nilai ini dapat diterjemahkan menjadi Intelligent Quotient (IQ). Nilai ini dapat menggambarkan perkembangan individu melalui pendidikan dan pekerjaan. Nilai ini perlu dihubungkan dengan latar belakang sosial serta dibandingkan dengan kelompok seusianya. 
2.      Dimensi Festigung-Flexibilität. Dimensi Festigung-Flexibilität menggambarkan corak berpikir yang dimiliki oleh subjek. Dimensi Festigung-Flexibilitat merupakan dua kutub yang ekstrim, Keduanya menggambarkan corak berpikir yang ekstrim pula. Kutub Festigung memiliki arti corak berpikir yang eksak, sedangkan kutub Flexibilität memiliki arti corak berpikir yang non-eksak. Corak berpikir ini merupakan hasil perkembangan (pengalaman) individu yang akan semakin mantap ke salah satu kutub seiring bertambahnya usia. Cara menentukan seseorang subjek apakah memiliki kecenderungan Festigung atau Flexibilitat adalah dengan membandingkan nilai GE+RA dengan nilai AN+ZR. Jika nila GE+RA lebih besar maka subjek memiliki kecenderungan Festigung, sebaliknya jika nilai AN+ZR lebih besar maka subjek memiliki kecenderungan Flexibilitat. 
3.      Profil M-W. Profil M-W menggambarkan cara berpikir, apakah verbal-teoritis atau praktis-konkrit. Untuk mendapatkan profil dalam bentuk huruf M atau W ini dapat dilihat dari 4 subtes pertama (SE, WA, AN, GE) yang tampak pada grafik. Jika grafik menunjukkan bentuk huruf M pada 4 subtes pertama maka profilnya adalah M (verbal-teoritis), jika yang tampak adalah bentuk huruf W maka profilnya adalah W (praktis-konkrit).

C.   TES CPM
CPM (Colours Progressive Matrices) merupakan salah satu alat tes terbaik untuk mengukur inteligensi umum, dimana CPM dapat mendeskripsikan kemampuan abstrak atau pemahaman non verbal. CPM dipergunakan untuk mengukur taraf  kecerdasan bagi anak-anak yang berusia 5 sampai 11 tahun. CPM selain dapat digunakan bagi anak normal dapat pula digunakan bagi anak abnormal.
Bentuk tes CPM ada dua macam yaitu berbentuk cetakan buku dan yang lainnya berbentuk papan dan gambar-gambarnya tidak berbeda dengan yang di buku cetak. CPM (Colours Progressive Matrices) terdiri dari 36 gambar, gambar-gambar tersebut dikelompokkan menjadi 3 kelompok atau 3 set yaitu set A, set Ab, dan set B yang masing-masing terdiri dari 12 soal. Persoalan CPM bergerak dari mudah ke sulit, yang menuntut keakuratan diskriminasi. Soal-soal yang lebih sulit melibatkan analogi, permutasi, perubahan poin dan hubungan yang logis. Tiap item terdiri dari sebuah gambar besar yang berlubang dan dibawahnya terdapat 6 gambar penutup. Tugas testi adalah memilih salah satu diantara gambar ini yang tepat untuk menutupi kekosongan pada gambar besar.
Tes ini dirancang khusus untuk testee berusia 5 hingga 11 tahun dimana tes ini dapat disajikan secara individual atau klasikal. Waktu untuk mengerjakan tes ini adalah tidak dibatasi.
Cara penilaian pada tes ini adalah memberi nilai 1 pada jawaban yang benar, dan nilai 0  pada jawaban yang salah. Sehingga skor mentah atau Raw Scored maksimal yang dapat diperoleh adalah 36 (RS maksimal= 36). Setelah Raw Score diperoleh, maka tester perlu mengubah skor tersebut ke dalam bentuk persentil, sesuai dengan Usia Kronologis (CA) testee. Jika sudah diubah menjadi persentil, maka tester akan dapat menggolongkan testee ke dalam Grade dan Kapasitas Intelektual.


Aspek yang diukur pada CPM adalah:
1.      Berpikir logis atau menalar, yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan yang sah menurut aturan logika dan dapat membuktikan bahwa kesimpulan itu benar sesuai dengan pengetahuan sebelumnya
2.      Kecakapan pengamatan ruang, yaitu kemampuan untuk membayangkan dan menganalisa ruang dengan baik.
3.      Kemampuan berpikir analogi, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya untuk menyelesaikan masalah yang baru.
4.      Kemampuan memahami hubungan antara keseluruhan dan bagian, yaitu kemampuan untuk memahami hubungan antara pola gambar besar dengan pola gambar kecil.

Tujuan
Tes CPM dapat digunakan untuk mengungkap taraf kecerdasan bagi anak-anak yang berusia 5 samapai 1 tahun. Di samping itu juga digunakan untuk orang-orang yang lanjut usia dan bahkan utnuk anak-anak defective


2.3   PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM INTELIGENSI
Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi sehingga mengakibatkan adanya perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lainnya yaitu :
1.      Pengaruh Faktor Bawaan / Keturunan
Seberapa besar korelasi antara IQ orangtua dan IQ anak? Konsep heritabilitas berusaha memilah pengaruh keturunan dan lingkungan dalam suatu populasi. Heritabilitas (heritability) adalah bagian dari variansi dalam suatu populasi yang dikaitkan dengan faktor genetik. Indeks heritabilitas dihitung dengan menggunakan teknik statistik korelasi. Jadi, indeks heritabilitas tertinggi adalah 1,00, sehingga korelasi 0,70 keatas menunjukkan adanya pengaruh genetika yang kuat. Sebuah komite, yang terdiri dari peneliti-peneliti yang dihimpun American Psychological Association, menyimpulkan bahwa pada tahap remaja akhir, indeks heritabilitas kecerdasan kira-kira 0,75 mengindikasikan adanya pengaruh genetik yang kuat.
Menariknya, para peneliti menemukan bahwa indeks heritabilitas kecerdasan meningkat dari 0,45 pada bayi hingga 0.80 pada masa dewasa. Mengapa pengaruh heritabilitas terhadap kecerdasan meningkat seiring pertambahan usia? Mungkin, ketika kita bertambah dewasa, pengaruh lingkungan dan oranglain atas diri kita semakin berkurang, dan kita lebih mampu memilih lingkungan yang sesuai dengan keunggulan genetik kita. Contohnya, anak-anak atau remaja kadang didorong orangtua mereka untuk memasuki lingkungan yang tidak sesuai dengan warisan genetik mereka (anak ingin menjadi pemusik tetapi di dorong menjadi dokter, misalnya). Ketika dewasa, individu-individu ini memiliki lebih banyak keleluasaan memilih lingkungan karier mereka sendiri.
Arthur Jensen (1969) berpendapat bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan dan bahwa lingkungan hanya berperan minimal dalam mempengaruhi kecerdasan. Jensen meninjau riset tentang kecerdasan, yang kebanyakan melibatkan perbandingan-perbandingan skor tes IQ pada anak kembar identik dan kembar tidak identik. Anak kembar identik memiliki susunan gen yang serupa, jadi jika kecerdasan diturunkan secara genetik, skor IQ dari anak kembar identik haruslah lebih serupa satu sama lain dibandingkan skor IQ dari anak kembar tidak identik.
Studi-studi yang dipelajari Jansen menunjukkan korelasi rata-rata skor tes kecerdasan anak-anak kembar identik sebesar 0,82. Uji korelasi skor tes IQ anak-anak kembar tidak identik menghasilkan korelasi rata-rata 0,50. Jensen juga membandingkan korelasi skor-skor IQ untuk anak-anak kembar identik yang dibesarkan bersama-sama dan yang dibesarkan terpisah. Nilai korelasi untuk anak kembar identik yang dibesarkan bersama-sama adalah 0.89 dan yang dibesarkan terpisah 0,78. Jensen berpendapat bahwa jika faktor-faktor lingkungan lebih penting daripada faktor genetik, maka perbedaannya akan lebih besar.
Tingkat pendidikan orangtua kandung juga menjadi tolak ukur dalam memprediksi skor-skor IQ sang anak ketimbang IQ orangtua angkatnya. Akan tetapi, studi-studi adopsi juga mendokumentaskan pengaruh lingkungan. Perpindahan anak dari keluarga lama ke keluarga baru, yang mengakomodasi lingkungan yang lebih baik, meningkatkan IQ anak sekitar 12 poin. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (± 0,50). Di antara kembar identik korelasi sangat tinggi (± 0,90), sedangkan di antara individu-individu yang tidak bersanak saudara korelasinya rendah sekali (± 0,20). Bukti lain dari adanya pengaruh bawaan adalah hasil-hasil penelitian terhadap anak-anak yang diadopsi. IQ mereka ternyata masih biokorelasi tinggi dengan ayah/ibu yang sesungguhnya bergerak antara (±0,40 sampai ±0,50). Sedang korelasi dengan orangtua angkatnya sangat rendah (± 0,10 sampai ± 0,20). Selanjutnya, studi terhadap kembar yang diasuh secara terpisah juga menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi walaupun mereka tidak pernah saling kenal. Ini menunjukkan bahwa walau lingkungan berpengaruh terhadap taraf kecerdasan seseorang, tetapi banyak hal dalam kecerdasan itu yang tetap tak berpengaruh.
2.      Pengaruh Faktor Lingkungan
Sementara faktor keturunan genetika memberi kontribusi pada IQ, kebanyakan peneliti sepakat bahwa untuk kebanyakan orang, memodifikasi dalam lingkungan dapat mengubah skor IQ seseorang. Memperkaya lingkungan dapat meningkatkan prestasi di sekolah dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan. Walaupun faktor keturunan genetika mungkin selalu mempengaruhi kemampuan intelektual, faktor-faktor lingkungan dan kesempatan juga dapat menimbulkan perbedaan.
Studi-studi telah menemukan korelasi-korelasi signifikan antara status sosiekonomi dan kecerdasan. Cara orangtua berkomunikasi dengan anak, dukungan yang diberikan orangtua, lingkungan dimana keluarga tinggal, dan kualitas sekolah memberikan kontribusi terhadap korelasi-korelasi ini. Pengaruh lingkungan juga ditemukan pada penelitian tentang anak adopsi. Contohnya, menurut salah satu penelitan, anak yang pindah ke dalam keluarga dengan lingkungan yang lebih baik dibandingkan keluarga sebelumnya mengalami peningkatan IQ hingga 12 poin. Dalam penelitian lain, para peneliti pergi ke rumah-rumah dan mengamati bagaimana orangtua dari keluarga berada dan keluarga dengan penghasilan menengah berbicara dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Mereka menemukan bahwa keluarga yang berpenghasilan sedang lebih cenderung untuk berbicara dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka dibandingkan dengan orangtua yang berada. Seberapa sering orangtua berbicara dan berkomunikasi dengan anak pada 3 tahun pertama perkembangan seorang anak ditemukan berkorelasi dengan skor IQ anak dengan tes Stanford-Binet pada usia 3 tahun. Semakin sering orangtua berkomunikasi dan berbicara dengan anak mereka, semakin tinggi IQ anak-anak tersebut.
Sekolah juga mempengaruhi kecerdasan. Pengaruh terbesar telah ditemukan pada anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan formal dalam jangka waktu lama. Anak-anak ini mengalami penurunan kecerdasan. Sebuah studi terhadap anak-anak di Afrika Selatan mengalami penundaan bersekolah selama 4 tahun (karena tidak ada guru) menemukan adanya penurunan IQ sebesar 5 poin pada setiap tahun penundaan.
Walau ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, tetapi ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidaklah dapat terlepas dari otak. Dengan kata lain perkembangan organik otak akan sangat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu, ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa inteligensi bisa berkurang karena tidak adanya bentuk rangsangan tertentu dalam awal-awal kehidupan individu. Skeels dan Skodak menemukan dalam studi longitudinal mereka bahwa anak-anak yang dididik dalam lingkungan yang kaku, kurang perhatian, dan kurang dorongan lalu dipindahkan ke dalam lingkungan yang hangat, penuh perhatian, rasa percaya, dan memberikan dorongan, menunjukkan peningkatan skor yang cukup berarti pada tes kecerdasan. Selain itu, individu-individu yang hidup bersama dalam keluarga mempunyai korelasi kecerdasan yang lebih besar dibanding mereka yang dirawat secara terpisah. Zajonc dalam berbagai penelitian menemukan bahwa anak pertama biasanya memiliki taraf kecerdasan yang lebih tinggi dari adik-adiknya. Olehnya ini dijelaskan karena anak pertama untuk jangka waktu yang cukup lama hanya dikelilingi oleh orang-orang dewasa, suatu lingkungan yang memberinya keuntungan intelektual.


BAB III
PENUTUP
3.1            SIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa inteligensi mempunyai banyak arti menurut masing-masing ahli seperti; “Kemampuan untuk berpikir secara abstrsk” (Terman); “Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Colvin); ada pula yang mendefinisikan inteligensi sebagai “intelek plus pengetahuan” (Henmon); “Teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indera” (Hunt). Ada tiga jenis tes inteligensi yang ditulis penulis pada makalah, yaitu tes Wechsler yang bernama WBIS kemudian berkembang dan menjadi tes WAIS, lalu ada Tes IST, Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953 dan yang terakhir tes CPM dimana CPM dapat mendeskripsikan kemampuan abstrak atau pemahaman non verbal. CPM dipergunakan untuk mengukur taraf  kecerdasan bagi anak-anak yang berusia 5 sampai 11 tahun. CPM selain dapat digunakan bagi anak normal dapat pula digunakan bagi anak abnormal. Lalu yang terakhir perbedaan individu dalam inteligensi yaitu Pengaruh Faktor Lingkungan dan faktor bawaan atau genetic.
Selain itu juga kecerdasan atau intelegensi adalah kemampuan adaptasi dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup seseorang. Beberapa teori menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh individu dalam menentukan tujuan hidupnya


3.2            SARAN

 menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan masukan dan kritikan yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Atas masukan kritikan dan sarannya, penulis ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA